FACEBOOK       GOOGLE+      TWITTER

MENCEGAH     MENGENALI

Mau Tau? 10 Kasalahan Yang Sering Terjadi Dalam Pemakaian Kondom

Kondom digadang-gadang oleh pemerintah sebagai benda yang dapat menekan risiko serta mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual. Selain itu, penggunaan kondom juga dapat mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan penularan penyakit kelamin.

Melihat fungsi kondom yang begitu penting, maka penting juga menyadari ketepatan penggunaan kondom untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan dari berhubungan seks. Agar penggunaannya tetap efektif, maka hindarilah kesalahan-kesalahan berikut: 
1. Tidak memperhatikan kerusakan pada kondom
Meskipun sedang keadaan terangsang secara seksual, logika juga perlu tetap berjalan. Periksa keadaan kondom dengan seksama. Kerusakan, biasanya kebocoran, pada kondom justru akan menjadikan penggunaan kondom tidak efektif. Kerusakan kondom seringkali terjadi akibat kesalahan saat membuka kemasan kondom. 

2. Terlambat menggunakan kondom
Seringkali pria baru menggunakan kondom saat hubungan seks sudah terjadi. Dengan melakukan ini maka penularan penyakit mungkin sudah terjadi. Maka pastikan Anda menggunakan kondom sebelum hubungan seks terjadi. 

3. Melepas kondom lebih awal
Selagi masih melakukan hubungan seksual, jangan dulu melepas kondom. Kondom harus dipakai lebih awal hingga aktivitas bercinta benar-benar selesai. Apabila Anda terlalu buru-buru melepas kondom, Anda sama saja seperti berhubungan seks tanpa kondom. 

4. Menggunakan kondom yang sama berulang
Terkadang ada pria yang menggunakan kondom lebih dari satu kali. Padahal hal ini dapat meningkatkan risiko kehamilan yang tidak diinginkan. Penggunaan kondom berulang akan mengurangi efektivitas kondom tersebut. 

5. Gagal menghilangkan udara di ujung kondom
Ketika menggunakan kondom, pastikan untuk menghilangkan udara di ujung kondom sehingga sperma dapat tertampung sempurna. Jika tidak maka kondom bisa rusak selama ejakulasi. 

6. Salah menyimpan kondom
Kondom perlu disimpan di tempat yang sejuk dan kering. Salah menyimpan kondom akan menyebabkan kondom rusak dan berkurang efektivitasnya. 

7.  Memilih kondom dengan aroma atau rasa
Menggunakan kondom yang memiliki aroma atau rasa mungkin akan memberikan sensasi berbeda. Tetapi ada beberapa ahli berpendapat  penggunaan kondom yang ditambahkan rasa tertentu memiliki risiko. Pasalnya, sebagian besar kondom jenis ini mengandung gula yang dapat menyebabkan infeksi yeast. Meskipun vagina memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri dari bakteri, namun bahan kimia asing dapat menyebabkan risiko serius. 

8. Tidak memeriksa tanggal kedaluwarsa
Kondom juga memiliki batas kedaluwarsa, biasanya lima tahun. 

9. Terbalik memakai kondom
Bahkan memakainya di dua sisi dengan pemakaian berulang. Hal ini sama saja dengan Anda tidak menggunakan kondom karena tetap dapat menularkan penyakit bahkan kehamilan yang tidak diinginkan. 

10. Salah membuka kemasan 
Jangan buka kondom dengan kuku, gigi, dan benda tajam lainnya, karena hal ini dapat memperbesar kemungkinan kondom bocor.

Meningkatkan Bakteri Baik Dengan Pakai Kondom

Fungsi kondom ternyata tak sebatas mencegah kehamilan yang tidak diinginkan serta penularan infeksi seksual. Penggunaan kondom mungkin akan meningkatkan jumlah bakteri baik di vagina.

Penelitian di China menunjukkan, wanita yang aktif secara seksual dan menggunakan kondom memiliki koloni bakteri baik yang lebih banyak di vaginanya, dibandingkan dengan wanita yang memakai metode kontrasepsi lainnya.

Dalam riset ini para peneliti lebih fokus pada laktobasilus, jenis bakteri yang mendominasi flora alami di vagina kebanyakan wanita. Mikroba ini memproduksi asam laktat dan hidrogen perioksida, sehingga tingkat keasaman (pH) vagina berada sekitar 4.5. Tingkat keasaman tersebut setara dengan keasaman bir atau jus tomat.

Dengan tingkat keasaman tersebut maka tumbuhnya bakteri jahat bisa dihambat. Bakteri jahat yang terlalu banyak bisa menyebabkan keputihan, rasa gatal, bahkan infeksi.

Kehadiran laktobasilus juga akan mencegah vaginosis, yakni ketidakseimbangan bakteri di vagina sehingga menyebabkan cairan vagina berlebih dan berbau tidak sedap. Bahkan kehadiran bakteri baik juga akan mengurangi risiko penularan HIV.
Meningkatkan Bakteri Baik Dengan Pakai Kondom
Dalam penelitian yang dilakukan di Beijing Friendship Hospital, dilibatkan 164 wanita yang sudah menikah dan berusia 18-45 tahun. Seluruh responden adalah mereka yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal seperti pil.

Sekitar 72 responden memilih kondom, 57 orang menggunakan IUD (spiral), dan 35 memiliki metode KB "kalender" atau absen berhubungan seksual saat sedang subur.

Ternyata jumlah laktobasilus pada wanita yang menggunakan kondom paling tinggi dibanding dengan kelompok kontrasepsi lainnya.

Hubungan seksual diketahui bisa mengganggu keseimbangan ekosistem vagina, terutama karena cairan mani (kadar pH sekitar 7-8) bercampur dengan cairan vagina.

Penggunaan kondom diketahui akan mencegah terjadinya pencampuran tersebut sehingga tingkat keseimbangan bakteri di vagina tetap terjaga.

Meski begitu, para peneliti menyebutkan bahwa kondom bukanlah metode kontrasepsi terbaik untuk mencegah kehamilan. Tingkat kegagalan kondom sekitar 15 persen, sementara IUD memiliki tingkat kegagalan 0,6-0,8 persen pada tahun pertama dan semakin lama semakin efektif.

Terimakasih : www.livescience.com.

5 Penyebab Vagina Gatal Berlebihan

Gatal atau iritasi pada bagian tubuh manapun tentu tidak nyaman. Tetapi jika gatal itu terjadi di area sensitif seperti vagina, bukan saja rasa tidak nyaman tapi juga sangat menganggu.

Kebanyakan gatal dan iritasi di vagina sebenarnya bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Dengan pengobatan biasa dan menghindari pemicunya, biasanya gatal bisa diatasi. Tetapi rasa gatal juga bisa menjadi pertanda adanya infeksi. Karena itu jika rasa gatal berlangsung lama dan diikuti bau tak sedap, segera periksakan ke dokter.
5 Penyebab Vagina Gatal Berlebihan
Berikut adalah penyebab tersering dari rasa gatal, iritasi, dan rasa terbakar di vagina.

- Bacterial vaginosis
Adalah hal yang normal memiliki berbagai jenis bakteri di vagina. Tetapi jika pertumbuhan bakteri tertentu berlebihan, maka akan terjadi infeksi. Selain rasa gatal, gejala dari infeksi bacterial vaginosis lainnya adalah inflamasi, rasa terbakar, keluar cairan berlebihan, dan bau amis.


- Penyakit menular seksual
Ada beberapa penyakit menular seksual yang bisa menyebabkan gejala gatal dan iritasi, yakni herpes genital, kutil kelamin, gonorhea, dan chlamydia.

- Infeksi jamur
Sekitar 3 dari 4 wanita pernah mengalami infeksi jamur dalam hidupnya. Kondisi ini terjadi ketika jamur candida tumbuh berlebihan di vagina dan vulva. Kehamilan, penggunaan antibiotik, dan sistem kekebalan tubuh yang rendah, bisa memicu terjadinya infeksi jamur.

- Menopause
Penurunan kadar estrogen yang terjadi di akhir masa reproduksi wanita bisa menyebabkan dinding vagina tipis dan kering. Akibatnya lebih mudah terjadi iritasi dan gatal. Tipisnya dinding vagina juga kerap dialami ibu menyusui. 

- Iritasi bahan kimia
Sejumlah bahan kimia yang terdapat dalam kondom, cairan pembersih vagina, gel kontrasepsi, sabun detergen, sabun mandi, pakaian dalam, atau tisu toilet yang wangi, juga bisa menyebabkan iritasi pada vagina.

Terimakasih : www.kompas.com

Kenapa? Kok Makin Digaruk Makin Gatal

Seseorang kerap sulit menahan diri untuk tidak menggaruk ketika terasa gatal pada suatu bagian tubuh. Sekali menggaruk, tangan rasanya tak bisa berhenti untuk menggaruk dan berharap rasa gatal hilang.

Para ilmuwan mengatakan, menggaruk sebenarnya tak menjamin menghilangkan rasa gatal dan justru dapat membuat bagian yang gatal menjadi terasa makin gatal.

Penelitian menunjukkan bahwa saat menggaruk, otak akan memproduksi serotonin yang membuat seseorang semakin gatal. Para ilmuwan menyatakan bahwa menggaruk, mulanya dapat menyebabkan nyeri pada kulit.

Dokter Zhou-Feng Chen, peneliti senior dan direktur Pusat Studi Rasa Gatal di Universitas Washington, mengatakan bahwa rasa nyeri tersebut akan mengganggu rasa gatal. Sel-sel saraf pada sumsum tulang belakang membawa sinyal rasa sakit ke otak, bukan sinyal gatal.
Kenapa? Kok Makin Digaruk Makin Gatal
"Jika serotonin menyebar dari otak ke sumsum tulang belakang, serotonin dapat bergerak dari neuron yang merasakan nyeri ke sel-sel saraf yang mempengaruhi intensitas gatal," kata Chen.

Chen menjelaskan, sinyal gatal dan sinyal rasa sakit dikirim melalui jalur yang berbeda, namum saling berhubungan.

Saat menggaruk memang seketika dapat meredakan rasa gatal dengan munculnya rasa sakit ringan. Namun, ketika tubuh merespon sinyal rasa sakit, rasa gatal akan semakin parah.

Menurut peneliti, memblokir pelepasan seratonin bukan cara yang baik untuk mengurangi rasa gatal. Sebab, serotonin juga mempengaruhi proses pertumbuhan, penuaan, metabolisme tulang dan mengatur suasana hati. Memblokir serotonin dikhawatirkan berdampak ke seluruh tubuh.

Chen mengatakan, kemungkinan yang dilakukan adalah mengganggu komunikasi antara serotonin dan sel saraf di sumsum tulang belakang yang mengirimkan rasa gatal.

Salah satu cara yang dilakukan adalah mengisolasi reseptor yang digunakan oleh serotonin untuk mengaktifkan neuron GRPR. Neuron GRPR ini yang menyampaikan sinyal gatal dari kulit ke otak. Ketika dilakukan percobaan pada tikus, hasilnya rasa gatal berkurang.

Terimakasih : www.kompas.com.